Halaman

Minggu, 19 Juni 2011

Harta dan Agama

Baru saja datang seorang sahabat kepada saya, ia bercerita tentang nasib kakaknya yang tertua. Kakaknya ini telah di lamar oleh seorang laki-laki yang sholeh dan cukup ahli dalam ibadah, kalau ngomong masalah agama lelaki ini sudah menduduki kata-kata "Cukup" di bawah kesempurnaan, karena memang di dunia ini tidak ada yang sempurna. T...api lamaran itu di tolak mentah-mentah oleh orang tuanya, mengapa ? toh kalau di lihat-lihat sebenarnya tidak ada alasan untuk menolak laki-laki ini. Ternyata alasan orang tuanya adalah lelaki ini tidak cukup ideal dari segi materi dan jabatan. Tapi sebenarnya ia sudah S1 dan mengajar di sebuah sekolah, dan gajinya sudah lumayan cukup dan lumayan mapan untuk berumah tangga. Mengapa tetap di tolak? karena ternyata kakak tertuanya ini sudah S2, Gensi katanya mendapat menantu yang hanya S1. Aduhai, kasihan sekali nasib si kakak tertua sahabatku ini, padahal ia sangat mencintai laki-laki yang melamarnya itu dan kakaknya ini mencari calon suami yang layak di jadikan imamnya kelak, bukan seseorang yang memberinya harta kekayaan. Hanya saja bagaimana pun restu orang tua adalah jembatan menuju kebahagiaan. Yang salah si calon suami yang baru S1 atau Orang tua yang Gensi ? (Wallahu`alam)

Adalagi kisah Salah seorang Wanita yang menunda-nunda pernikahannya, bukan belum mendapat jodoh. Tetapi terlalu banyak lelaki yang ia tolak lamarannya, dengan alasan tidak tampan dan tidak kaya. Hingga sampai sekarang ia tetap berprinsip seperti itu. Entah sampai ia menunggu kesempurnaan itu.

Aku jadi teringat dengan kisah ibu dan ayahku di masa lalu, hanya saja agak sedikit berbeda, kalau kisah di atas tidak mendapat izin orang tua untuk menikah, orang tuaku mendapat izin dan restu hanya saja ayahku kurang biaya untuk mahar ketika melamar ibuku. Tapi semangat mereka tidak padam hanya sampai di situ, usaha pun di jadikan acuan untuk menetapkan tekad bulat mereka untuk segera menikah. Kalian tahu kawan?? dulunya ayahku itu seorang NELAYAN penangkap ikan, kerjanya sehari-hari menjual ikan, dan ibuku? ibuku hanya seorang pekerja dirental mesin tik. Tidak ada yang istimewa dari pekerjaan mereka. Hingga ayahku mendapat kerja lebih layak sebagai satpam di sebuah perusahaan dan ibuku bekerja honor bagian TU di sebuah sekolah. Berangkat dari kisah tadi, Ayahku mulai menabung mengumpulkan mahar untuk ibu, Dan kalian tau ? ibuku juga ikut menabung agar cepat mereka menikah. (Kalau di lihat zaman sekarang, perempuan mana sih yang mau seperti ibuku? malah mereka mengharap mahar setinggi2nya tanpa berpikir seberapa tinggi kemampuan calon suaminya).

Setelah menikah dan punya anak 1 (abangku) mereka memutuskan untuk hidup mandiri, tidak ingin menyusahkan orang tua mereka (nenek dan kakekku). Mereka pun mulai mewujudkan mimpi mereka membangun sebuah rumah (rumah yang sekarang menjadi tempat tinggalku.) Mahar yang ayahku berikan itu di jadikan modal utama untuk membangun rumah kami (kalau wanita sekarang mana ada yang rela menggadaikan maharnya untuk membangun rumah, bukankah itu tanggung jawab suami untuk memberikan ia rumah?). Belum lagi sempurna rumah itu (Ayah dan ibuku baru sanggup membangun dinding kasar, atap berupa "seng" dan lantai kasar tanpa keramik) mereka sudah memutuskan untuk tinggal di sana, baru setelah itu lahirlah aku.Ayah dan Ibuku dulunya tergolong sederhana. aku tidak katakan miskin, karna ayah dan ibuku masih bisa makan 3 kali sehari.

Hingga saat ini mungkin hal yang tak pernah di bayangkan ayah dan ibuku adalah mereka bisa menjalani liku dan pahitnya hidup ini. Tak pernah mereka bayangkan bisa berkehidupan semapan saat ini, Mungkin mereka hanya bisa bersyukur kepada ALLAH bisa menyekolahkan ketiga anak mereka hingga ke jenjang setinggi-tingginya, bisa membangun rumah impian, bisa mendapat pekerjaan yang lebih layak, bisa hidup bahagia tanpa harus bergantung pada orang lain dan terus beribadah kepada ILAHI RABBI.



Mari Kita gabungkan kedua kisah diatas..

AGAMA TIDAK AKAN JAUH DARI HARTA.

HARTA SUNGGUH SANGAT JAUH DARI AGAMA.

Lihat ayahku yang dulunya NELAYAN menikah dengan Ibuku yang tukang ketik rental. Tidak ada yang menyangka bukan bisa hidup sebahagia sekarang ? itu pernikahan bukan karena materi, tapi karena cinta dan di barengi dengan agama.

Namanya HIDUP butuh PERJUANGAN, jika ingin enak-enaknya saja, bukan hidup. Ingin bahagia bukan berarti harus menikah dengan Kaya dan bertahta, bukan yang tampan atau yang cantik.

Bukankah rasulullah pun juga pernah bersabda sebaik-baik wanita yang di lamar yaitu yang di pandang dari sudut agamanya ? sebaik-baik wanita adalah yang murah maharnya ? dan jika datang kepadamu laki-laki yang baik agamanya, baik dari perangainya hingga tidak alasan untukmu menolak lamarannya ?

tapi kenapa pada zaman sekarang ini PERNIKAHAN dikait2kan dengan HARTA dan JABATAN ? bukankah lebih baik PERNIKAHAN dikaitkan dengan AGAMA.

#Wallahu`alam.
 
by : Oulia Ulfa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar